Dayah Muta'allimiyatut Thifliyah Diniyah Islamiyah (MUTIDI)

Menjaga Turats, Membangun Generasi Qur’ani dan Berdaya Saing

Dayah Muta’allimiyatut Thifliyah Diniyah Islamiyah (MUTIDI) merupakan lembaga pendidikan Islam yang lahir dari semangat dakwah, pendidikan, dan pengabdian kepada umat. Berdiri sejak tahun 1963, dayah ini didirikan oleh ulama kharismatik Tgk. H. M. Yusuf H. Ibrahim, seorang tokoh pendidikan yang memiliki visi besar untuk melahirkan generasi muslim yang berilmu, berakhlak, dan istiqamah di atas manhaj Ahlussunnah wal Jamaah.

Sejak awal berdirinya, Dayah MUTIDI tidak hanya hadir sebagai tempat menuntut ilmu agama, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat yang menanamkan nilai keislaman, tradisi keilmuan salafiyah, dan akhlakul karimah dalam kehidupan para santri. Dalam perjalanan panjangnya, dayah ini terus menjaga warisan keilmuan para ulama salaf melalui pembelajaran turats atau kitab-kitab klasik, sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman agar para santri mampu menghadapi tantangan masa depan tanpa meninggalkan identitas keislaman dan tradisi pesantren.


Warisan Keilmuan Sejak 1963

Didirikan oleh Tgk. H. M. Yusuf H. Ibrahim, Dayah MUTIDI tumbuh dari cita-cita mulia untuk menghadirkan lembaga pendidikan Islam yang kokoh dalam aqidah, mendalam dalam ilmu, dan luhur dalam akhlak. Dengan pondasi nilai-nilai salafiyah yang kuat, dayah ini menjadi tempat lahirnya banyak generasi santri yang berkhidmat di tengah masyarakat sebagai guru, da’i, pemimpin umat, dan penjaga tradisi keilmuan Islam.

Semangat pendirian dayah ini berakar pada keyakinan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi proses membentuk manusia seutuhnya—beriman, berilmu, beradab, dan bermanfaat bagi umat. Oleh karena itu, sejak dahulu hingga kini, Dayah MUTIDI terus memegang teguh prinsip pendidikan yang memadukan ilmu, amal, dan adab sebagai inti pembentukan karakter santri.


Pendidikan Al-Qur’an, Hadits, dan Kitab Kuning

Sebagai dayah yang berakar dalam tradisi salafiyah, pembelajaran di MUTIDI berfokus pada pendalaman ilmu-ilmu syar’i yang bersumber dari Al-Qur’an, Hadits, dan kitab kuning sebagai warisan intelektual ulama klasik.

Para santri dibina untuk memahami, membaca, mengkaji, dan mengamalkan ajaran Islam melalui berbagai disiplin ilmu seperti tauhid, fiqh, ushul fiqh, tafsir, hadits, nahwu, sharaf, balaghah, tasawuf, dan ilmu alat lainnya yang menjadi kunci memahami turats.

Kajian kitab kuning menjadi ruh pendidikan dayah, dengan mempelajari karya-karya ulama mu’tabarah sebagai sumber ilmu yang terjaga sanad keilmuannya. Melalui sistem pembelajaran khas dayah, santri tidak hanya diajarkan membaca teks, tetapi juga memahami makna, metodologi istinbath hukum, adab keilmuan, serta nilai-nilai hikmah yang terkandung di dalamnya.

Pendidikan di MUTIDI tidak hanya bertujuan menjadikan santri cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk pribadi yang kokoh aqidahnya, benar ibadahnya, dan mulia akhlaknya sesuai ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.


Penguatan Bahasa: Arab, Inggris, dan Indonesia

Sebagai bagian dari pembinaan generasi muslim yang siap menghadapi tantangan global, Dayah MUTIDI menerapkan pembelajaran dengan tiga bahasa, yaitu Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia.

Bahasa Arab menjadi bagian utama dari tradisi dayah karena merupakan bahasa Al-Qur’an dan kunci memahami kitab-kitab turats. Para santri dibiasakan menggunakan bahasa Arab dalam pembelajaran, percakapan, serta pendalaman literatur keislaman agar mampu memahami sumber-sumber ilmu secara langsung.

Selain itu, Bahasa Inggris diajarkan sebagai bekal komunikasi internasional dan wawasan global, agar santri tidak hanya unggul dalam ilmu agama tetapi juga siap berinteraksi dengan dunia yang terus berkembang.

Sementara Bahasa Indonesia menjadi medium pembinaan literasi, komunikasi, dan penguatan kemampuan berpikir serta penyampaian dakwah yang baik di tengah masyarakat.

Dengan sistem tiga bahasa ini, Dayah MUTIDI berkomitmen melahirkan santri yang berakar kuat dalam tradisi keilmuan Islam, namun juga terbuka, adaptif, dan siap berkontribusi di tingkat nasional maupun internasional.


Program Tahfizul Qur’an: Mencetak Generasi Penjaga Kalamullah

Salah satu pilar utama pendidikan di Dayah MUTIDI adalah Tahfizul Qur’an, sebagai bentuk komitmen membentuk generasi Qur’ani yang dekat dengan kalam Allah.

Program tahfiz tidak hanya berorientasi pada hafalan semata, tetapi juga menekankan tajwid, tahsin, pemahaman makna, serta pembinaan adab bersama Al-Qur’an. Para santri dibimbing agar menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar hafalan di lisan.

Melalui pembinaan yang terstruktur, para santri didorong menjadi hafizh dan hafizhah yang menjaga kemurnian hafalan, memahami kandungan Al-Qur’an, dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.


Ekstrakurikuler Islami sebagai Penguatan Karakter Santri

Pendidikan di Dayah MUTIDI tidak berhenti di ruang belajar dan kajian kitab. Pembinaan santri juga diperkuat melalui berbagai ekstrakurikuler islami yang dirancang untuk menumbuhkan bakat, kepemimpinan, disiplin, serta keterampilan hidup.

Beragam kegiatan ekstrakurikuler menjadi wadah pembentukan karakter dan pengembangan potensi santri, seperti:

  • Muhadharah dan latihan dakwah
  • Qira’ah dan seni tilawatil Qur’an
  • Kaligrafi Islam
  • Seni hadrah dan nasyid islami
  • Kajian kitab tambahan dan bahtsul masail
  • Pramuka islami dan kepemimpinan santri
  • Kegiatan sosial dan pengabdian masyarakat
  • Pelatihan keterampilan berbasis kemandirian

Melalui kegiatan-kegiatan ini, santri tidak hanya dibentuk sebagai penuntut ilmu, tetapi juga sebagai pribadi yang percaya diri, bertanggung jawab, dan siap menjadi kader umat.

Ekstrakurikuler islami di MUTIDI menjadi sarana penting untuk menanamkan semangat ukhuwah, kepemimpinan, kreativitas, dan pengabdian yang sejalan dengan nilai-nilai pesantren.


Wisata Religius: Belajar dari Jejak Ulama dan Peradaban Islam

Sebagai bagian dari pembelajaran yang holistik, Dayah MUTIDI juga menghadirkan program Wisata Religius sebagai sarana pendidikan berbasis pengalaman dan penguatan spiritual santri.

Melalui kegiatan ini, para santri diajak mengunjungi situs-situs bersejarah Islam, makam ulama, dayah-dayah tua, masjid bersejarah, serta pusat-pusat peradaban Islam yang memiliki nilai edukatif dan ruhani.

Wisata religius bukan sekadar perjalanan, tetapi bagian dari proses belajar langsung tentang sejarah perjuangan ulama, dakwah Islam, tradisi keilmuan, dan nilai-nilai keteladanan yang hidup dalam warisan umat.

Dari perjalanan tersebut, santri belajar menghargai sejarah, meneladani perjuangan ulama, memperkuat kecintaan terhadap tradisi Islam, serta menumbuhkan semangat melanjutkan estafet dakwah dan keilmuan.

Program ini menjadi salah satu ciri pendidikan Dayah MUTIDI yang tidak hanya mendidik di ruang kelas, tetapi juga membentuk kesadaran sejarah dan spiritual santri melalui pengalaman nyata.


Menjaga Turats, Menyiapkan Masa Depan

Di tengah perkembangan zaman yang terus berubah, Dayah MUTIDI tetap istiqamah menjaga identitasnya sebagai Dayah Salafiyah yang berpijak pada turats, namun juga visioner dalam menyiapkan generasi masa depan.

Perpaduan antara pendidikan Al-Qur’an, kajian kitab kuning, penguatan bahasa, tahfiz, pembinaan karakter, dan kegiatan ekstrakurikuler menjadikan MUTIDI sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mencetak lulusan berilmu, tetapi juga insan yang beradab, mandiri, dan siap mengabdi.

Dayah ini meyakini bahwa masa depan umat bergantung pada lahirnya generasi yang memiliki tiga kekuatan utama:
kekuatan iman, kedalaman ilmu, dan keluhuran akhlak.

Karena itu, seluruh proses pendidikan di MUTIDI diarahkan untuk melahirkan santri yang:

  • Qur’ani dalam iman dan perilaku
  • Mendalam dalam ilmu syar’i dan turats
  • Teguh dalam manhaj Ahlussunnah wal Jamaah
  • Mandiri dan berdaya saing
  • Siap berkhidmat untuk agama, bangsa, dan umat


Komitmen Membangun Generasi Rabbani

Selama lebih dari enam dekade sejak didirikan pada tahun 1963, Dayah Muta’allimiyatut Thifliyah Diniyah Islamiyah (MUTIDI) terus berdiri sebagai pusat pendidikan, pembinaan, dan perjuangan dakwah.

Dengan semangat menjaga warisan ulama salaf dan menyiapkan generasi rabbani masa depan, MUTIDI berkomitmen terus menjadi rumah ilmu, rumah adab, dan rumah pembinaan bagi para santri.

Di sinilah Al-Qur’an dihafal dan diamalkan, hadits dipelajari dan dihidupkan, kitab kuning dikaji dan diwariskan, bahasa dibangun sebagai jendela peradaban, karakter ditempa melalui kegiatan islami, dan sejarah dihidupkan melalui wisata religius.

"Dayah MUTIDI bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat tumbuhnya generasi Qur’ani, penjaga turats, dan pewaris perjuangan ulama.

Menjaga Turats, Menguatkan Tradisi Salafiyah, Membangun Generasi Qur’ani untuk Umat dan Peradaban."